Oh,
Jadi Ini yang Kau Sebut Berjuang?
Bagiku, menunggumu adalah hal
yang begitu menyenangkan, terlebih ketika kau menyempatkan untuk sekedar
bertanya apa kabarku, apakah aku masih mencintaimu, dan beberapa hal lain yang
sejenak bisa membuatku lupa bahwa aku sedang mengorbankan waktuku untuk
menunggumu, yang nyatanya hari ini tidak lagi seperti dulu.
Lantas teman-temanku bertanya
padaku, kenapa aku masih saja menanti sosokmu yang sudah nyata pergi dan sulit
untuk kembali, tapi jawabanku sederhana saja, kukatakan pada mereka bahwa kau
pernah berjanji untuk tak kemana-mana, dan aku masih sangat yakin bahwa kau
tidak akan pernah ingkar, meski nyatanya aku sudah mendengar dari banyak orang
kalau kau sudah punya wanita lain.
Aku adalah tipe orang yang
memegang teguh komitmen dank au tau itu, bukan? Jadi, jangan herankan lagi
kenapa aku masih dengan bodoh mau menantimu, karena kau pasti tau jawabannya.
Aku masih sama dengan wanita lainnya, aku pun masih manusia biasa, tapi aku
punya hati yang cukup lapang untuk menerima segala kenyataan, aku memiliki
logika yang cukup hina untuk menyadari bahwa sosok yang aku bangga-banggakan
adalah tak seharusnya aku perlakukan seperti dewa.
Oh ya, bolehkah aku bertanya
padamu? Baiklah. Aku masih ingat saat kali pertama kita bertemu, kau
memperkenalkan dirimu sebagai sosok pemegang teguh komitmen, apakah dirimu
sudah berubah? Emm masih ingat saat kali pertama kita bercanda di kedai waktu itu, kau katakan padaku bahwa ayahmu
selalu mengingatkanmu untuk jadi lelaki sejati cukup dengan tak menyakiti hati
wanita, lalu apakah sekarang ayahmu tak lagi mengingatkanmu sehingga kau lupa?
Mungkin memang aku tak butuh lagi jawabannya, karena bagiku kamu sudah lelah
berjuang, kamu sudah menghentikan langkahuntuk berjalan kepadaku, tak apa, karena
memang aku mencari lelaki yang harusnya berjuang lebih keras darimu, mampu
berjalan lebih jauh darimu.
-Dinar Eksa Pratiwi-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar