Kamis, 26 Februari 2015

Helai Yang Terlupakan

Helai yang Terlupakan


Hidup memang mengikuti jalan takdir walau kadang merasa tak adil. Apa kuasa seorang seperti aku untuk melawannya. Tentang akhir sebuah cerita yang sengaja kau buat sedemikian rupa. Drama apa yang sudah kumainkan denganmu sebelumnya? Kau yang mengatur ceritanya, membuatku terlihat bodoh di lensa kamera. Seakan ditertawakan oleh kepedihan yang semakin lama semakin menyeruak. Namun tangan ini tak memiliki kekuatan untuk menghentikan bagian yang sedang kau mainkan untukku, hingga menjadi alasan air mata ini meluncur dengan derasnya.


Drama itu selesai, berakhir dengan cerita pedih dan ditinggal pergi. Aku sempat bertanya kemana bagian-bagian cerita indah yang menjadi awal ceritanya, apa kau lupakan begitu saja. Sedangkan bagiku itu membekas menambah sakit dadaku. Kadang bayangan manis itu muncul sekelebat saat aku memejamkan mata, membuatku tak mampu menghilangkan rasa perih. Mungkin aku yang terlalu cinta, dan merasa memilikimu, lupa bahwa semua di dunia ini hanya meminjam. Bukan milikku sepenuhnya, dan kau pun mulai beranjak, dan aku harus rela mengembalikan. Walau sulit, yang masih kuharapkan adalah takkan pernah kau lupakan.

Seperti sehelai daun yang gugur bersama angin. Entah kemana angin akan membawanya, helai ini tak punya daya. Meski dibawa jauh dari pohonnya, meski ia menjerit, angin tak pernah merasa iba. Helai itu hanya bisa percaya bahwa angin akan membawanya ke tempat yang lebih indah walau ia merindu tangkainya. Semesta hanya menjadi saksi bisu rintihan hatinya, yang sebenarnya tidak tau arah. Gesekan tanah sedikit mengikis kulitnya, sebelum kering, helai masih berharap kembali, sebelum kering, helai ingin melihat pohonnya sekali lagi, sebelum kering helai berharap tak pernah dilupakan oleh tangkai tempatnya bersemi, helai ingin dikenang hingga ia kering dan menghilang.

By : Lenny L.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar