Helai
yang Terlupakan
Hidup memang mengikuti
jalan takdir walau kadang merasa tak adil. Apa kuasa seorang seperti aku untuk
melawannya. Tentang akhir sebuah cerita yang sengaja kau buat sedemikian rupa.
Drama apa yang sudah kumainkan denganmu sebelumnya? Kau yang mengatur
ceritanya, membuatku terlihat bodoh di lensa kamera. Seakan ditertawakan oleh
kepedihan yang semakin lama semakin menyeruak. Namun tangan ini tak memiliki
kekuatan untuk menghentikan bagian yang sedang kau mainkan untukku, hingga
menjadi alasan air mata ini meluncur dengan derasnya.
Drama itu selesai,
berakhir dengan cerita pedih dan ditinggal pergi. Aku sempat bertanya kemana
bagian-bagian cerita indah yang menjadi awal ceritanya, apa kau lupakan begitu
saja. Sedangkan bagiku itu membekas menambah sakit dadaku. Kadang bayangan
manis itu muncul sekelebat saat aku memejamkan mata, membuatku tak mampu
menghilangkan rasa perih. Mungkin aku yang terlalu cinta, dan merasa
memilikimu, lupa bahwa semua di dunia ini hanya meminjam. Bukan milikku
sepenuhnya, dan kau pun mulai beranjak, dan aku harus rela mengembalikan. Walau
sulit, yang masih kuharapkan adalah takkan pernah kau lupakan.
Seperti sehelai daun
yang gugur bersama angin. Entah kemana angin akan membawanya, helai ini tak
punya daya. Meski dibawa jauh dari pohonnya, meski ia menjerit, angin tak
pernah merasa iba. Helai itu hanya bisa percaya bahwa angin akan membawanya ke
tempat yang lebih indah walau ia merindu tangkainya. Semesta hanya menjadi
saksi bisu rintihan hatinya, yang sebenarnya tidak tau arah. Gesekan tanah
sedikit mengikis kulitnya, sebelum kering, helai masih berharap kembali,
sebelum kering, helai ingin melihat pohonnya sekali lagi, sebelum kering helai
berharap tak pernah dilupakan oleh tangkai tempatnya bersemi, helai ingin
dikenang hingga ia kering dan menghilang.
By :
Lenny L.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar