Lembaran
Kenangan
Seperti biasa, aku
masih membiarkan tubuhku mematung di tengah lalu lalang angin yang selalu
berkabar tentang kisah-kisah bahagia. Di senja kali ini bersama jingga, anginku
membisikkan cerita yang pernah kuurai dalam coretan catatan berharga, sehingga
ia abadi dan terjaga.
Sebuah catatan
tentang perjalanan yang mengurai warna putih itu menjadi warna-warna indah di
setiap harinya. Inilah keluarga keduaku, yang tak sempurna namun saling
menjaga. Dalam rintik keringat kita akan diusap oleh gurau tawa. Adakalanya
usaha itu berbuah manis, namun tak mustahil pula mengecap pahit. Penuh dengan
rentetan kejadian yang silih berganti. Seakan hidup tidak berjalan dengan mudah
dan justru hal inilah yang menjadi nilai magis kehidupan. Bukankah manusia
memang mendiami biliknya masing-masing? Namun bukankah mempertebal sekat bilik
itu menjadikan kita seakan berada di bangunan yang tak sama? Disini aku bahkan
merasa sekat tak ada artinya. Senior, junior, hanya anggapan yang sama sekali
tak mencipta jarak antara kita. Tiap harinya merajut kata yang akan mengisi
bingkai kenangan di masing-masing dari kita. Tak luput pula saat bersama entah
apa sebabnya rasa kebahagiaan diam-diam menyusup di sela obrolan ringan kita.
Tentang teman yang menjadi saudara, persahabatan kokoh terjalin tanpa perlu janji, biar bukti yang
menjelaskan tentang kesetiaan yang kita miliki. Mereka benar-benar keluarga.
Dan kali ini waktu
memburu seakan tak menyisakan apapun selain bayangan memori yang tersimpan
rapat di kepala. Ketika angin sudah berhenti membawa berita, ketika ombak tak
lagi meneriakkan kisahnya, dan ketika langit telah lelah melukis cerita, aku
tersadar tulisan ini sudah sampai di ujung kata. Sekarang waktu memaksaku untuk
beranjak dari kenyamanan petak yang kuhuni. Bukannya menyalahkan waktu, tapi
dialah jembatan pelaku takdir yang sudah ditulis untukku. Dan aku percaya
keluargaku takkan hilang, dia hanya bertambah, bukan berubah.
Teruntuk
keluarga kecilku,
PIKASSO
Lenny
L.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar