Jumat, 23 Oktober 2015

Mengantarmu Pulang

                        Mengantarmu Pulang

Kemarin semua masih baik-baik saja. Sebelum awan hitam meredupkan pandanganku. Angin lembut serasa berduri di kulitku. Hawa sejuk terasa menusuk tulangku. Beku di sekujur tubuhku ini menandakan ada salah satu bagian yang tak lengkap dari diriku. Jemarimu yang biasanya menghangatkanku pun sekarang seakan tak membantu, aku sadar jemarimu sudah tak ingin lagi kugenggam. Perubahan yang tak sanggup kuterima, pilihan yang tak ingin kujalani, dan keadaan yang tak  kuasa kuhadapi.  Seribu pertanyaan memenuhi relungku, yang jawabannya takkan pernah kutemukan. Semua pertanyaan yang meledak-ledak ini hanya menemui jalan buntu karena kebisuanmu. Jarak langkah kita merenggang, sesekali saat ku terhenti kau tak menunggu hingga aku harus berlari untuk menyejajarkan posisi. Saat jalanku hujan kau tak lagi memberi teduhan. Kemana semua perlakuan baik yang pernah kau beri? Semuanya membekas dalam memoriku, membuatku semakin sakit saat menyadari kau tak seperti dulu lagi.
Kupikir jalan kita masih sama, tapi ternyata kau sudah mengambil langkah berbeda. Perbedaan ini menyadarkanku, seberapa jauh aku memaksamu kembali, tempat di hatimu bukan aku lagi. Aku bukan lagi alasanmu tersenyum, aku bukan tujuan perjalanan panjang yang kau tempuh, aku bukan tempatmu pulang. Semakin kupertahankan, semua ini semakin menyiksa. Sedangkan merelakanmu aku masih tak bisa. Apakah tak kau lihat pedih di tatapan mataku? Bahkan air mataku tak bisa lagi mencairkan hatimu yang beku. Ikatan kita memang masih ada, tapi hatimu sudah membatu. Cintamu sudah lenyap bersama waktu, apa dayaku untuk mempertahankanmu?
Biar aku belajar pada kehidupan, tentang bagaimana matahari membiarkan senja menenggelamkannya, dan bagaimana langit merelakan jatuhnya setiap rintik air yang tak kembali. Mungkin aku harus membiarkanmu meninggalkan janji setia kita, dan mungkin aku pun harus merelakanmu pergi tanpa mengharapkanmu lagi. Di sisa perjalanan kita ini, biarkan aku mengantarmu pulang. Mengantarmu ke tempat yang kau inginkan, lalu melepasmu. Setelah ini perjalanan pulangku tak akan sama, karena kita tak lagi bersama. Akan kuhapus setiap jejak kita tadi, hanya aku dan hujan yang tau bagaimana aku belajar tentang “Ikhlas” dan “Mengerti”.

Karena cinta sejati takkan pernah pergi.
Lenny L.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar