Belenggu Angan
Oleh : Wahyu Pertiwi
BELENGGU ANGAN
Dari sudut ruangan aku berdiri,
menatap pilu seorang lelaki paruh baya yang terduduk lesu dihadapan meja hijau. Dari sudut mata aku
merasakan luka itu, begitu perih menyayat hatinya. Bibirku bergetar kecil,
menahan semua gejolak yang berada dalam hatiku. Hatiku berseru sedari tadi,
memekik tertahan untuk semua tatapan remeh mereka. Sebuah jemari kecil
mencengkeram lengan kananku. Terdengar isak tangisnya yang tertahan. Ia adalah
Rina, adik kecilku yang begitu kusayangi.
Aku
masih mendengar segala ocehan orang-orang disana. Menuding Ayahku dengan sesuka
hatinya. Apalagi pria berkepala botak dengan jas hitamnya. Ia terus melemparkan
senyum miring kepada Ayahku. Aku mencengkram ujung bajuku, berharap emosiku
sedikit mereda karena perbuatan kecil itu.
“Terdakwa,
apa anda mengakui itu?”
Suara
Pak Hakim terdengar nyaring. Membuat Ayahku yang semula tertunduk kini menatap
kepada Pak Tua itu. Aku menggeleng keras, menyangkal pertanyaan yang terlontar
dari mulut Pak Tua tersebut.
“Terdakwa,
tunjukkan sesuatu sebagai jawaban anda,” tutur Pak Hakim dengan nada tegas.
Bulir
air mataku lolos begitu saja. Bersamaan dengan isak tangis Rani yang kian
mengeras. Aku beranjak berdiri sehingga semua orang menatapku, “Ayahku tidak
bersalah! Ia hanyalah seorang korban! Apa kalian tidak berpikir seorang tuna
wicara seperti Ayahku bisa melakukan itu?” Bahuku naik turun bersamaan dengan nafasku
yang tak teratur. Aku memandang Ayahku yang juga tengah menatapku. Aku
menggeleng kecil pertanda menolak segala tuduhan yang diberikan penuntut. Apa
mereka tega dengan kondisi Ayahku yang tidak bisa bicara?
“Kak…,” aku meringis kecil ketika
Rani memanggilku dengan suara paraunya. Aku kembali terduduk dibangku dan
memeluk bahu Rani yang bergetar. Semua orang kembali fokus kepada jalannya
pengadilan. Tanpa menghiraukan teriakanku. Tanpa menghiraukan paraunya tangis
adikku.
“Terdakwa memanglah seorang tuna
wicara. Tapi hal itu tidak menghalanginya untuk bertindak kejahatan, bukan?
Bahkan disini banyak saksi yang menyatakan bahwa terdakwa memang menusuk korban
untuk tujuan kejahatan. Bahkan terbukti terdapat sidik jari terdakwa di pisau
tersebut,” tutur seorang pria botak yang menjadi pendamping korban.
“Bagaimana terdakwa, masih tidak
ingin mengakuinya?” tanya sang Hakim.
Kulihat Ayahku masih diam diatas
kursinya. Tanpa melakukan apa-apa, tanpa berucap apa-apa.
Saat ini, detik ini, di ruangan ini
aku bertekad. Aku mempunyai sebuah mimpi untuk menunjukkan kebenaran. Siapa
yang salah, siapa yang benar, aku akan menunjukkan semua itu kepada mereka. Aku
berjanji. Detik jam mewakili segalanya.
Saat tangis Rani mendomisi bisingnya suasana, ketika keluarga korban bersorak
penuh kemenangan. Dan saat Hakim memukul palu sebanyak tiga kali.
“Berdasarkan bukti-bukti yang
menjatuhkan terdakwa, saksi-saksi yang memperkuat bukti, kami menyatakan bahwa
terdakwa, Suwono dihukum penjara selama lima belas tahun atas pelanggaran tindak
kriminalitas berdasarkan pasal 338 KUHP.“
***
Aku berdiri dihadapan pintu berkayu
dengan tatapan nanar. Kenangan buruk itu yang membuatku berdiri disini.
Kenangan itu yang terus membantuku melangkah untuk berada disini. Kenangan itu
juga yang membuatku selalu bermimpi untuk menjadikan sebuah harapan itu menjadi
nyata.
Kuhembuskan nafas panjang yang
mengawali langkah kakiku untuk memasuki ruangan itu. Semua orang tampak sibuk
dengan kertas-kertas dimeja mereka.Banyak dari mereka yang saling bercakap
membicarakan wawancara yang akan dilakukan tiga puluh menit lagi. Aku melangkah
menuju sebuah kursi disudut ruangan yang masih kosong. Aku berada disini demi
Rani yang masih harus menimba ilmu di bangku menengah atas, demi Ayah yang
masih mendekam dibalik jeruji besi karena fitnah yang kejam, dan demi Ibuku
yang sudah bahagia di surga bersama Tuhan.
“Hei, kau tidak salah masuk kemari?”
Aku menoleh pada seorang wanita bertubuh molek disampingku. Menatapku dengan
tatapan sinis dan remehnya. Aku hanya terdiam di tempat, tanpa melakukan reaksi
apapun.
“Dari penampilanmu aku yakin kau
hanya anak orang rendahan yang bermimpi tinggi. Mau menjadi seorang pengacara
dengan penampilan seperti itu?” tanya wanita yang satunya. Aku membenarkan
ucapanya. Orang rendahan dari kalangan bawah sepertiku memang tidak sepantasnya
berada disini. Penampilanku sangat kontras dengan mereka. Aku hanya memakai rok
selutut berwarna hitam dengan atasan kemeja berwarna putih lusuh. Sedangkan
mereka memakai rok hitam dengan atasan kemeja yang dilapisi jas mahal dengan
merk terkenal.
Aku memilih tidak menghiraukanya
dan beralih pada lembaran kertas yang
mungkin berisi pertanyaan saat wawancara nanti. “Kami berbicara denganmu.
Jangan-jangan kau juga tuli? Atau bisu?” tanyanya dengan senyum meremehkanya.
Aku menghentakkan bolpoinku keatas
meja dengan keras. Aku menatap mereka dengan geram. Melihat mereka membuatku
teringat pada Pria berkepala botak yang menuding Ayahku seenak hatinya. Saat
aku ingin membalas ucapanya, aku teringat saat Ayahku hanya terdiam ketika
seseorang memakinya. Ayahku dengan keadaan tuna wicara dan berprofesi sebagai
seorang penjual kerupuk keliling begitu tegar ketika menerima banyak cacian dan
makian untuknya. Tapi, kenapa aku tidak?
“Wawancara akan segera dimulai.
Sebaiknya kalian menyiapkan diri untuk wawancara nanti. Permisi.” Aku beranjak
berdiri dan berpindah kursi. Aku menutup mata sejenak dan mulai membaca lagi
berderet-deret pertanyaan diaats lembaran putih itu.
***
Disudut sebuah gang, terdapat
perdebatan kecil disana. Disinari cahaya senja yang temaram, seorang lelaki
dengan pakaian serba hitam dengan sebuah masker hitam yang menutupi sebagian
wajahnya, tampak menodongkan sebuah pisau kecil dihadapan seorang wanita paruh
baya. Wanita itu tampak bersusah payah
merebut sesuatu dari pria tersebut, membuat pria bertubuh kekar itu tak
segan-segan menusukkan pisau kecil itu diatas perut si wanita.
“To….long,” rintihan memilukan
wanita tersebut mencengkam keheningan yang ada. Beruntung bagi pria kekar itu
menjalankan misinya, karena tak banyak orang yang melewati gang sempit itu.
Wanita tersebut hanya dapat berteriak meski suaranya teredam oleh bekapan
tangan besar pria itu pada mulutnya.
Tak jauh dari sana, seorang pria tua
tengah berjalan tertatih dengan memikul dua buah plastik besar dipunggungnya.
Berselimut langit senja, berkumul dengan debu yang kian menebal. Dengan
gigihnya pria itu berjalan tanpa menghiraukan tatapan remeh para orang muna
disekitarnya.
“TOLONG!”
Langkah
kaki berkeriput itu terhenti lantaran mendengar suara jeritan wanita. Kepala
yang ditenggeri kupluk lusuh berwarna hitam itu terus berpendar kekanan dan
kekiri guna mencari asal suara tersebut. Keningnya berkerut samar, ketika
mendengar rintihan itu semakin jelas ketika kedua kakinya berjalan mendekati
sebuah gang sempit. Kedua matanya melebar mendapati pemandangan keji di
hadapanya. Seorang wanita paruh baya itu hanya merintih kesakitan karena
tusukan pisau belati itu yang mengenai perutnya. Seseorang berpakaian serba
hitam itu panik ketika seorang Pak Tua terlihat dalam jangkauan matanya. Pak
Tua itu melihat semuanya.
Pria serba hitam itu bergegas
merampas tas milik korban itu. Ia sedikit panik ketika mendengar banyak suara
langkah kaki yang kian mendekat. Pria itu menyerahkan pisau belati yang
berlumuran darah kepada Pak Tua, sedangkan ia berlari secepatnya melalui
gang-gang sempit itu.
Pak Tua penjual kerupuk keliling
yang diketahui bernama Pak Suwono, bingung bukan kepalang. Ia mendekati wanita
paruh baya yang meringkih tak sadarkan diri diujung gang. Sebelum kakinya
melangkah lebih dekat untuk membantu wanita itu, suara-suara didekatnya
membuatnya terdiam dan jatuh dalam kebingungan.
“Kami sudah mengepungmu! Jangan
bergerak!”
“Dasar Pak Tua bejat! Kau mau
membunuh wanita itu?”
***
Air mataku menggenang di pelupuk.
Kiasan-kiasan kisah lima tahun lalu membuatku sedikit terpuruk dan membenci
alur hidupku. Tidak pantaskah aku mendapat kebahagiaan? Melarut tawa bersama
keluargaku? Tidak seperti ini. Melawan pahitnya hidup seorang diri, menerjang
kejamnya manusia seorang diri.
Tangan kananku menggenggam sebuah
kertas. Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang-orang yang sedang serius
mendengarkan keputusan Pak Hakim. Aku melihat sosok laki-laki yang duduk di
meja terdakwa. Jika boleh, ingin sekali aku membunuh pria itu. Pria yang membuat
Ayahku difitnah dan dibenci banyak orang. Bagiku, pria itu yang membuat Ayahku
mendekam di balik bui hingga akhir hayatnya.
“Berdasarkan saksi-saksi,
bukti-bukti yang ada, serta pengakuan terdakwa, kami menyatakan bahwa terdakwa
dinyatakan bersalah, maka dari itu saudara Surwono dinyatakan murni tidak
bersalah.”
Para juri bersorak gaduh, menandai
berakhirnya pengadilan kali ini. Orang demi orang mulai meninggalkan ruangan
ini. Pria itu, menatapku sendu, menandakan penyesalanya selama ini. Aku hanya
diam tak berekspresi. Dari sudut mataku, aku melihat sosok adik kecilku, Rina,
mendekatiku. Ia tersenyum padaku lantas memelukku
erat. Air mata kami tumpah seketika.
Meski Ayahku sudah tak bisa lagi
bersama dengan kami, aku masih merasakan kehadiranya disini. Ia tersenyum
bangga kepadaku, karena aku telah menghapus fitnah buruk kepada Ayahku. Ya,
beliau meninggal ketika dipenjara. Beliau menghidap penyakit jantung akut,
membuatnya tak bisa hadir diantara puluhan orang tadi, yang menyaksikan
bagaimana Pak Hakim menyatakan bahwa Ayahku tidak bersalah. Aku melirik
jemariku yang menggenggam sebuah kertas yang kuketahui dari Ayahku sebelum
meninggal. Kubuka perlahan kertas lusuh itu.
Untuk Anak sulungku, Dewi.
Saat kau membuka surat ini, Ayah
pasti sudah berada ditempat dimana ada Ibumu disini. Maafkan Ayah yang telah
meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Ayah sudah terlalu banyak
membebanimu, nak. Ayah bisu, tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.
Ayah tahu Ayah bukanlah sosok Ayah yang
baik untukmu dan Rina. Ayah ingat ketika semua orang menuding Ayah. Menetapkan
Ayah sebagai seorang pembunuh. Ayah hanya bisa diam ketika mereka menyudutkan
Ayah. Maafkan Ayah.
Ketika Pak Hakim menjatuhkan
hukuman kepada Ayah, Ayah ingin sekali mengatakan yang sebenarnya untuk
menyangkal keputusan Hakim. Tapi Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak
bisa mengatakan apa-apa. Mungkin ini takdir Allah yang diberikan kepada Ayah.
Untukmu, Ayah selalu mendo’akanmu,
nak. Ayah mengucapkan terima kasih berkali-kali untukmu karena kegigihanmu
untuk menjadi seorang pengacara, demi menghapus segala fitnah tentang Ayah.
Sekali lagi terima kasih, nak.
Mungkin saat ini kau sudah tidak
bisa melihat Ayah tersenyum kepadamu, namun percayalah bahwa Ayah selalu
menyertaimu , nak.
Jaga Rina baik-baik, dia
satu-satunya keluargamu yang ada.
Untuk segalanya, terima kasih.
Dan juga maafkan Ayah, karena
meninggalkanmu dengan beban berat yang kau pikul seorang diri.
Maafkan Ayah.
SELESAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar