Rabu, 07 Januari 2015

Belenggu Angan


Belenggu Angan
Oleh : Wahyu Pertiwi


BELENGGU ANGAN

            Dari sudut ruangan aku berdiri, menatap pilu seorang lelaki paruh baya yang terduduk  lesu dihadapan meja hijau. Dari sudut mata aku merasakan luka itu, begitu perih menyayat hatinya. Bibirku bergetar kecil, menahan semua gejolak yang berada dalam hatiku. Hatiku berseru sedari tadi, memekik tertahan untuk semua tatapan remeh mereka. Sebuah jemari kecil mencengkeram lengan kananku. Terdengar isak tangisnya yang tertahan. Ia adalah Rina, adik kecilku yang begitu kusayangi.
Aku masih mendengar segala ocehan orang-orang disana. Menuding Ayahku dengan sesuka hatinya. Apalagi pria berkepala botak dengan jas hitamnya. Ia terus melemparkan senyum miring kepada Ayahku. Aku mencengkram ujung bajuku, berharap emosiku sedikit mereda karena perbuatan kecil itu.
“Terdakwa, apa anda mengakui itu?”
Suara Pak Hakim terdengar nyaring. Membuat Ayahku yang semula tertunduk kini menatap kepada Pak Tua itu. Aku menggeleng keras, menyangkal pertanyaan yang terlontar dari mulut Pak Tua tersebut.
“Terdakwa, tunjukkan sesuatu sebagai jawaban anda,” tutur Pak Hakim dengan nada tegas.
Bulir air mataku lolos begitu saja. Bersamaan dengan isak tangis Rani yang kian mengeras. Aku beranjak berdiri sehingga semua orang menatapku, “Ayahku tidak bersalah! Ia hanyalah seorang korban! Apa kalian tidak berpikir seorang tuna wicara seperti Ayahku bisa melakukan itu?”  Bahuku naik turun bersamaan dengan nafasku yang tak teratur. Aku memandang Ayahku yang juga tengah menatapku. Aku menggeleng kecil pertanda menolak segala tuduhan yang diberikan penuntut. Apa mereka tega dengan kondisi Ayahku yang tidak bisa bicara?
           “Kak…,” aku meringis kecil ketika Rani memanggilku dengan suara paraunya. Aku kembali terduduk dibangku dan memeluk bahu Rani yang bergetar. Semua orang kembali fokus kepada jalannya pengadilan. Tanpa menghiraukan teriakanku. Tanpa menghiraukan paraunya tangis adikku.
      “Terdakwa memanglah seorang tuna wicara. Tapi hal itu tidak menghalanginya untuk bertindak kejahatan, bukan? Bahkan disini banyak saksi yang menyatakan bahwa terdakwa memang menusuk korban untuk tujuan kejahatan. Bahkan terbukti terdapat sidik jari terdakwa di pisau tersebut,” tutur seorang pria botak yang menjadi pendamping korban.
            “Bagaimana terdakwa, masih tidak ingin mengakuinya?” tanya sang Hakim.
            Kulihat Ayahku masih diam diatas kursinya. Tanpa melakukan apa-apa, tanpa berucap apa-apa.
         Saat ini, detik ini, di ruangan ini aku bertekad. Aku mempunyai sebuah mimpi untuk menunjukkan kebenaran. Siapa yang salah, siapa yang benar, aku akan menunjukkan semua itu kepada mereka. Aku berjanji.  Detik jam mewakili segalanya. Saat tangis Rani mendomisi bisingnya suasana, ketika keluarga korban bersorak penuh kemenangan. Dan saat Hakim memukul palu sebanyak tiga kali.
        “Berdasarkan bukti-bukti yang menjatuhkan terdakwa, saksi-saksi yang memperkuat bukti, kami menyatakan bahwa terdakwa, Suwono dihukum penjara selama lima belas tahun atas pelanggaran tindak kriminalitas berdasarkan pasal 338 KUHP.“
           

***

            Aku berdiri dihadapan pintu berkayu dengan tatapan nanar. Kenangan buruk itu yang membuatku berdiri disini. Kenangan itu yang terus membantuku melangkah untuk berada disini. Kenangan itu juga yang membuatku selalu bermimpi untuk menjadikan sebuah harapan itu menjadi nyata.
            Kuhembuskan nafas panjang yang mengawali langkah kakiku untuk memasuki ruangan itu. Semua orang tampak sibuk dengan kertas-kertas dimeja mereka.Banyak dari mereka yang saling bercakap membicarakan wawancara yang akan dilakukan tiga puluh menit lagi. Aku melangkah menuju sebuah kursi disudut ruangan yang masih kosong. Aku berada disini demi Rani yang masih harus menimba ilmu di bangku menengah atas, demi Ayah yang masih mendekam dibalik jeruji besi karena fitnah yang kejam, dan demi Ibuku yang sudah bahagia di surga bersama Tuhan.
         “Hei, kau tidak salah masuk kemari?” Aku menoleh pada seorang wanita bertubuh molek disampingku. Menatapku dengan tatapan sinis dan remehnya. Aku hanya terdiam di tempat, tanpa melakukan reaksi apapun.
            “Dari penampilanmu aku yakin kau hanya anak orang rendahan yang bermimpi tinggi. Mau menjadi seorang pengacara dengan penampilan seperti itu?” tanya wanita yang satunya. Aku membenarkan ucapanya. Orang rendahan dari kalangan bawah sepertiku memang tidak sepantasnya berada disini. Penampilanku sangat kontras dengan mereka. Aku hanya memakai rok selutut berwarna hitam dengan atasan kemeja berwarna putih lusuh. Sedangkan mereka memakai rok hitam dengan atasan kemeja yang dilapisi jas mahal dengan merk terkenal.
          Aku memilih tidak menghiraukanya dan  beralih pada lembaran kertas yang mungkin berisi pertanyaan saat wawancara nanti. “Kami berbicara denganmu. Jangan-jangan kau juga tuli? Atau bisu?” tanyanya dengan senyum meremehkanya.
           Aku menghentakkan bolpoinku keatas meja dengan keras. Aku menatap mereka dengan geram. Melihat mereka membuatku teringat pada Pria berkepala botak yang menuding Ayahku seenak hatinya. Saat aku ingin membalas ucapanya, aku teringat saat Ayahku hanya terdiam ketika seseorang memakinya. Ayahku dengan keadaan tuna wicara dan berprofesi sebagai seorang penjual kerupuk keliling begitu tegar ketika menerima banyak cacian dan makian untuknya. Tapi, kenapa aku tidak?
            “Wawancara akan segera dimulai. Sebaiknya kalian menyiapkan diri untuk wawancara nanti. Permisi.” Aku beranjak berdiri dan berpindah kursi. Aku menutup mata sejenak dan mulai membaca lagi berderet-deret pertanyaan diaats lembaran putih itu.

***

            Disudut sebuah gang, terdapat perdebatan kecil disana. Disinari cahaya senja yang temaram, seorang lelaki dengan pakaian serba hitam dengan sebuah masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya, tampak menodongkan sebuah pisau kecil dihadapan seorang wanita paruh baya.  Wanita itu tampak bersusah payah merebut sesuatu dari pria tersebut, membuat pria bertubuh kekar itu tak segan-segan menusukkan pisau kecil itu diatas perut si wanita.
            “To….long,” rintihan memilukan wanita tersebut mencengkam keheningan yang ada. Beruntung bagi pria kekar itu menjalankan misinya, karena tak banyak orang yang melewati gang sempit itu. Wanita tersebut hanya dapat berteriak meski suaranya teredam oleh bekapan tangan besar pria itu pada mulutnya.
            Tak jauh dari sana, seorang pria tua tengah berjalan tertatih dengan memikul dua buah plastik besar dipunggungnya. Berselimut langit senja, berkumul dengan debu yang kian menebal. Dengan gigihnya pria itu berjalan tanpa menghiraukan tatapan remeh para orang muna disekitarnya. 
            “TOLONG!”
Langkah kaki berkeriput itu terhenti lantaran mendengar suara jeritan wanita. Kepala yang ditenggeri kupluk lusuh berwarna hitam itu terus berpendar kekanan dan kekiri guna mencari asal suara tersebut. Keningnya berkerut samar, ketika mendengar rintihan itu semakin jelas ketika kedua kakinya berjalan mendekati sebuah gang sempit. Kedua matanya melebar mendapati pemandangan keji di hadapanya. Seorang wanita paruh baya itu hanya merintih kesakitan karena tusukan pisau belati itu yang mengenai perutnya. Seseorang berpakaian serba hitam itu panik ketika seorang Pak Tua terlihat dalam jangkauan matanya. Pak Tua itu melihat semuanya.
            Pria serba hitam itu bergegas merampas tas milik korban itu. Ia sedikit panik ketika mendengar banyak suara langkah kaki yang kian mendekat. Pria itu menyerahkan pisau belati yang berlumuran darah kepada Pak Tua, sedangkan ia berlari secepatnya melalui gang-gang sempit itu.
            Pak Tua penjual kerupuk keliling yang diketahui bernama Pak Suwono, bingung bukan kepalang. Ia mendekati wanita paruh baya yang meringkih tak sadarkan diri diujung gang. Sebelum kakinya melangkah lebih dekat untuk membantu wanita itu, suara-suara didekatnya membuatnya terdiam dan jatuh dalam kebingungan.
            “Kami sudah mengepungmu! Jangan bergerak!”
            “Dasar Pak Tua bejat! Kau mau membunuh wanita itu?”


***


            Air mataku menggenang di pelupuk. Kiasan-kiasan kisah lima tahun lalu membuatku sedikit terpuruk dan membenci alur hidupku. Tidak pantaskah aku mendapat kebahagiaan? Melarut tawa bersama keluargaku? Tidak seperti ini. Melawan pahitnya hidup seorang diri, menerjang kejamnya manusia seorang diri.
            Tangan kananku menggenggam sebuah kertas. Aku mengangkat kepalaku dan menatap orang-orang yang sedang serius mendengarkan keputusan Pak Hakim. Aku melihat sosok laki-laki yang duduk di meja terdakwa. Jika boleh, ingin sekali aku membunuh pria itu. Pria yang membuat Ayahku difitnah dan dibenci banyak orang. Bagiku, pria itu yang membuat Ayahku mendekam di balik bui hingga akhir hayatnya.
            “Berdasarkan saksi-saksi, bukti-bukti yang ada, serta pengakuan terdakwa, kami menyatakan bahwa terdakwa dinyatakan bersalah, maka dari itu saudara Surwono dinyatakan murni tidak bersalah.”
            Para juri bersorak gaduh, menandai berakhirnya pengadilan kali ini. Orang demi orang mulai meninggalkan ruangan ini. Pria itu, menatapku sendu, menandakan penyesalanya selama ini. Aku hanya diam tak berekspresi. Dari sudut mataku, aku melihat sosok adik kecilku, Rina, mendekatiku. Ia tersenyum  padaku lantas memelukku erat. Air mata kami tumpah seketika.
            Meski Ayahku sudah tak bisa lagi bersama dengan kami, aku masih merasakan kehadiranya disini. Ia tersenyum bangga kepadaku, karena aku telah menghapus fitnah buruk kepada Ayahku. Ya, beliau meninggal ketika dipenjara. Beliau menghidap penyakit jantung akut, membuatnya tak bisa hadir diantara puluhan orang tadi, yang menyaksikan bagaimana Pak Hakim menyatakan bahwa Ayahku tidak bersalah. Aku melirik jemariku yang menggenggam sebuah kertas yang kuketahui dari Ayahku sebelum meninggal. Kubuka perlahan kertas lusuh itu.
Untuk Anak sulungku, Dewi.
Saat kau membuka surat ini, Ayah pasti sudah berada ditempat dimana ada Ibumu disini. Maafkan Ayah yang telah meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Ayah sudah terlalu banyak membebanimu, nak. Ayah bisu, tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.
Ayah tahu Ayah bukanlah sosok Ayah yang baik untukmu dan Rina. Ayah ingat ketika semua orang menuding Ayah. Menetapkan Ayah sebagai seorang pembunuh. Ayah hanya bisa diam ketika mereka menyudutkan Ayah. Maafkan Ayah.
Ketika Pak Hakim menjatuhkan hukuman kepada Ayah, Ayah ingin sekali mengatakan yang sebenarnya untuk menyangkal keputusan Hakim. Tapi Ayah tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Mungkin ini takdir Allah yang diberikan kepada Ayah.
Untukmu, Ayah selalu mendo’akanmu, nak. Ayah mengucapkan terima kasih berkali-kali untukmu karena kegigihanmu untuk menjadi seorang pengacara, demi menghapus segala fitnah tentang Ayah.
Sekali lagi terima kasih, nak.
Mungkin saat ini kau sudah tidak bisa melihat Ayah tersenyum kepadamu, namun percayalah bahwa Ayah selalu menyertaimu , nak.
Jaga Rina baik-baik, dia satu-satunya keluargamu yang ada.
Untuk segalanya, terima kasih.
Dan juga maafkan Ayah, karena meninggalkanmu dengan beban berat yang kau pikul seorang diri.

Maafkan Ayah.


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar