Layu
Aku,
setangkai mawar yang merindu. Bersandar sendiri pada dinding keteguhan yang
dibasahi hujan bersama sebuah keyakinan yang tak lagi menggebu. Melihat jalan jarum kecil di lengan kiri hingga otak
menjadi panik karena lama menunggu, 3 jam.
Namun kau masih tak tampak di ujung jalan, entah dimanakah kau. Inginku
beranjak, pulang, tapi sisi lain diriku masih memaksa menunggu. Hingga logika
berontak dan memburu, untuk apa masih ditunggu? Akhirnya tubuhku mulai
bergerak, menjauh dari tempat semula, tanganku merogoh saku jaket meraih Hp,
tak ada pesan darimu. Sampai di rumah aku terduduk lesu, tak kuat lagi menahan
marah aku meneleponmu. Kudengar suara serakmu menyapaku, aku malas bersuara
banyak, tapi rupanya kau sudah sadar tentang kelalaianmu pada janji. Aku
berharap kau mengatakan seribu maaf dengan alasan besar akan kesibukan atau
keperluan penting yang tak bias kau tinggal, tapi ternyata kau hanya berucap
maaf dengan alasan malas keluar tanpa ada usaha lain dan rasa bersalah. Aku
lemas sekaligus marah, aku memaki sejenak tapi kau tak peduli. Tentang lelah,
hujan yang aku lalui hanya untuk menunggumu. Kumatikan teleponku, masuk kamar
menahan air mata yang sudah antri di pelupuk. “Aku harus kuat” ucapku
menyemangati diri sendiri, mencoba melupakan apa yang terjadi hari ini, mencoba
mengerti. Walau kau memang tak pernah berubah, hanya memikirkan nyamanmu sendiri. Tak menghiraukan keseriusan di mataku, ketulusan hatiku. Tapi kadang kata sayangmu meluluhkan pemikiranku.
Namun
kini, kau sudah terlampau jauh dengan anggapan kesibukanmu, hingga aku merasa
tak penting lagi dalam hidupmu. Sinarmu mulai redup di mataku. Jika memang
begini maumu, It’s okay aku akan cari kehidupan baru tanpamu.
Tak
kuberi pesan satupun untukmu hingga malam, dan kaupun tidak mencariku.
Kubiarkan ini berlangsung dua minggu, aku mengalah, ku kirim satu pesan untukmu, “Masih pentingkah aku bagimu?” entah
tak tau atau sengaja mengabaikan, pesanku tak ada jawaban. Aku anggap semuanya
sudah usai, kau pergi tanpa alasan. Kau tau betapa jauhnya aku terjatuh, hingga
kepingan berserakan tak berbentuk. Aku hancur. Tapi hidupku tak berhenti, waktu
akan terus mengejarku, aku harus tetap berjalan di atas serpihan luka.
Mulai
kutemukan cahaya,yang sedikit mampu mengukir senyum di bibirku lagi. 3 bulan
hidupku sendiri tanpa kekasih,tanpa rasa cinta, cintaku sudah kuberi pada
seluruh manusia di dunia. Malam hariku terasa sama, gelap tanpa warna, suara
ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Tanganku meraih gagang pintu, menggeser,
tampak raut wajah sendu membawa mawar untukku, kau. Kau yang dulu mengisi
hatiku, dulu. “Ada apa?” tanyaku dingin. “Maafkan
aku, aku sadar telah menyianyiakanmu. Aku tak bisa hidup tanpa senyummu,
maafkan aku, kembalilah menjadi putriku.” Kau berujar dengan mudahnya,
tanpa berpikir bagaimana hatiku terluka. Aku mengerutkan kening, bingung dengan
sikapmu yang labil. “Aku sudah melupakan
semuanya, jika kau ingin berteman, baiklah. Tapi tidak untuk seperti dulu.”
Jawabku tersenyum dan menepuk bahumu. Kulihat raut tak puas di wajahmu, tapi
itu sudah tak berarti apa-apa bagiku. Karena mawarmu yang dulu sudah layu.
By : Lenny L.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar