Kamis, 05 Februari 2015

Layu

Layu

Aku, setangkai mawar yang merindu. Bersandar sendiri pada dinding keteguhan yang dibasahi hujan bersama sebuah keyakinan yang tak lagi menggebu. Melihat  jalan jarum kecil di lengan kiri hingga otak menjadi panik karena lama menunggu, 3 jam.
Namun kau masih tak tampak di ujung jalan, entah dimanakah kau. Inginku beranjak, pulang, tapi sisi lain diriku masih memaksa menunggu. Hingga logika berontak dan memburu, untuk apa masih ditunggu? Akhirnya tubuhku mulai bergerak, menjauh dari tempat semula, tanganku merogoh saku jaket meraih Hp, tak ada pesan darimu. Sampai di rumah aku terduduk lesu, tak kuat lagi menahan marah aku meneleponmu. Kudengar suara serakmu menyapaku, aku malas bersuara banyak, tapi rupanya kau sudah sadar tentang kelalaianmu pada janji. Aku berharap kau mengatakan seribu maaf dengan alasan besar akan kesibukan atau keperluan penting yang tak bias kau tinggal, tapi ternyata kau hanya berucap maaf dengan alasan malas keluar tanpa ada usaha lain dan rasa bersalah. Aku lemas sekaligus marah, aku memaki sejenak tapi kau tak peduli. Tentang lelah, hujan yang aku lalui hanya untuk menunggumu. Kumatikan teleponku, masuk kamar menahan air mata yang sudah antri di pelupuk. “Aku harus kuat” ucapku menyemangati diri sendiri, mencoba melupakan apa yang terjadi hari ini, mencoba mengerti. 
 Walau kau memang tak pernah berubah, hanya memikirkan nyamanmu sendiri.  Tak menghiraukan keseriusan di mataku, ketulusan hatiku. Tapi kadang kata sayangmu meluluhkan pemikiranku.
Namun kini, kau sudah terlampau jauh dengan anggapan kesibukanmu, hingga aku merasa tak penting lagi dalam hidupmu. Sinarmu mulai redup di mataku. Jika memang begini maumu, It’s okay aku akan cari kehidupan baru tanpamu.
Tak kuberi pesan satupun untukmu hingga malam, dan kaupun tidak mencariku. Kubiarkan ini berlangsung dua minggu, aku mengalah, ku kirim satu pesan untukmu, “Masih pentingkah aku bagimu?” entah tak tau atau sengaja mengabaikan, pesanku tak ada jawaban. Aku anggap semuanya sudah usai, kau pergi tanpa alasan. Kau tau betapa jauhnya aku terjatuh, hingga kepingan berserakan tak berbentuk. Aku hancur. Tapi hidupku tak berhenti, waktu akan terus mengejarku, aku harus tetap berjalan di atas serpihan luka.
Mulai kutemukan cahaya,yang sedikit mampu mengukir senyum di bibirku lagi. 3 bulan hidupku sendiri tanpa kekasih,tanpa rasa cinta, cintaku sudah kuberi pada seluruh manusia di dunia. Malam hariku terasa sama, gelap tanpa warna, suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Tanganku meraih gagang pintu, menggeser, tampak raut wajah sendu membawa mawar untukku, kau. Kau yang dulu mengisi hatiku, dulu.  “Ada apa?” tanyaku dingin. “Maafkan aku, aku sadar telah menyianyiakanmu. Aku tak bisa hidup tanpa senyummu, maafkan aku, kembalilah menjadi putriku.” Kau berujar dengan mudahnya, tanpa berpikir bagaimana hatiku terluka. Aku mengerutkan kening, bingung dengan sikapmu yang labil. “Aku sudah melupakan semuanya, jika kau ingin berteman, baiklah. Tapi tidak untuk seperti dulu.” Jawabku tersenyum dan menepuk bahumu. Kulihat raut tak puas di wajahmu, tapi itu sudah tak berarti apa-apa bagiku. Karena mawarmu yang dulu sudah layu.
By : Lenny L.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar