Sabtu, 03 September 2016

                                                   Sahabat Sesaat
                                            Oleh : Armanda Yusuf S.


Ketika kau kusapa,kau hanya menganggapku debu yang tak bernilai

Ketika kau ku tanya,hanya diamlah jawabanmu

Ketika kau kuharapkan,hanya sekecil balasan yang kudapatkan

Ku ingat dahulu ketika kau masih akrab denganku

Jalan bersama

Makan bersama

Ngobrol bersama tapi,

tidak tidur bersama

            Hanya satu pertanyaan yang selalu terlintas dibenakku

            "Apakah yang telah ku lakukan hingga kau begini?"

            Kini ku tau bahwa sahabat tak selamanya sahabat

            Sahabat abal-abal yang cuma modal awal,akhiran kosong

            Karena kebanyakan sahabat hanyalah "Sesaat"

Selasa, 03 Mei 2016


RASA 
oleh : Yofani Kurnia Putri 



Sejauh sorotan matamu kutatap
Tak punya nyali lagi untuk mengulangi
Sekali lagi
Saat tak sengaja kulihat senyum angkuhmu
Semakin memupuk pesonaku padamu
Pesona nan indah
Juga wajahmu yang teduh
Sebabkan ku luluh
Jatuh terpikat

Sebuah rasa tercipta
Enyah
Ketika pesonamu tak lagi ada
Bersama hadirnya bunga lain dalam jiwamu
Aku jatuh disini
Tersungkur
Penuh sayatan luka tak terobati

Jumat, 23 Oktober 2015

Mengantarmu Pulang

                        Mengantarmu Pulang

Kemarin semua masih baik-baik saja. Sebelum awan hitam meredupkan pandanganku. Angin lembut serasa berduri di kulitku. Hawa sejuk terasa menusuk tulangku. Beku di sekujur tubuhku ini menandakan ada salah satu bagian yang tak lengkap dari diriku. Jemarimu yang biasanya menghangatkanku pun sekarang seakan tak membantu, aku sadar jemarimu sudah tak ingin lagi kugenggam. Perubahan yang tak sanggup kuterima, pilihan yang tak ingin kujalani, dan keadaan yang tak  kuasa kuhadapi.  Seribu pertanyaan memenuhi relungku, yang jawabannya takkan pernah kutemukan. Semua pertanyaan yang meledak-ledak ini hanya menemui jalan buntu karena kebisuanmu. Jarak langkah kita merenggang, sesekali saat ku terhenti kau tak menunggu hingga aku harus berlari untuk menyejajarkan posisi. Saat jalanku hujan kau tak lagi memberi teduhan. Kemana semua perlakuan baik yang pernah kau beri? Semuanya membekas dalam memoriku, membuatku semakin sakit saat menyadari kau tak seperti dulu lagi.
Kupikir jalan kita masih sama, tapi ternyata kau sudah mengambil langkah berbeda. Perbedaan ini menyadarkanku, seberapa jauh aku memaksamu kembali, tempat di hatimu bukan aku lagi. Aku bukan lagi alasanmu tersenyum, aku bukan tujuan perjalanan panjang yang kau tempuh, aku bukan tempatmu pulang. Semakin kupertahankan, semua ini semakin menyiksa. Sedangkan merelakanmu aku masih tak bisa. Apakah tak kau lihat pedih di tatapan mataku? Bahkan air mataku tak bisa lagi mencairkan hatimu yang beku. Ikatan kita memang masih ada, tapi hatimu sudah membatu. Cintamu sudah lenyap bersama waktu, apa dayaku untuk mempertahankanmu?
Biar aku belajar pada kehidupan, tentang bagaimana matahari membiarkan senja menenggelamkannya, dan bagaimana langit merelakan jatuhnya setiap rintik air yang tak kembali. Mungkin aku harus membiarkanmu meninggalkan janji setia kita, dan mungkin aku pun harus merelakanmu pergi tanpa mengharapkanmu lagi. Di sisa perjalanan kita ini, biarkan aku mengantarmu pulang. Mengantarmu ke tempat yang kau inginkan, lalu melepasmu. Setelah ini perjalanan pulangku tak akan sama, karena kita tak lagi bersama. Akan kuhapus setiap jejak kita tadi, hanya aku dan hujan yang tau bagaimana aku belajar tentang “Ikhlas” dan “Mengerti”.

Karena cinta sejati takkan pernah pergi.
Lenny L.

Kamis, 21 Mei 2015

Lembaran Kenangan

Lembaran Kenangan

Seperti biasa, aku masih membiarkan tubuhku mematung di tengah lalu lalang angin yang selalu berkabar tentang kisah-kisah bahagia. Di senja kali ini bersama jingga, anginku membisikkan cerita yang pernah kuurai dalam coretan catatan berharga, sehingga ia abadi dan terjaga.

Selasa, 24 Maret 2015

Oh jadi ini yang kau sebut berjuang?

Oh, Jadi Ini yang Kau Sebut Berjuang?

Bagiku, menunggumu adalah hal yang begitu menyenangkan, terlebih ketika kau menyempatkan untuk sekedar bertanya apa kabarku, apakah aku masih mencintaimu, dan beberapa hal lain yang sejenak bisa membuatku lupa bahwa aku sedang mengorbankan waktuku untuk menunggumu, yang nyatanya hari ini tidak lagi seperti dulu.

Jumat, 20 Maret 2015

Jemari Asing

Jemari Asing


Masih berdiri di titik ini, masih tak bergeming. Pandanganku masih nanar, cahaya terasa kecil di depan sana. Aku sudah lama disini, sendiri. Berselimut kegelapan, dingin yang menusuk tulang, pilu yang masih terasa walau kupejamkan mata. Aku benar-benar terluka, bahkan lututku sudah tak kuat menopang tubuhku, aku terjatuh. Kutitikkan lagi gerimis di lembut pipiku yang juga sebeku salju. Hela napas di setiap isakan gadismu ini bagai pedang yang sudah menancap dalam. Entah sudah sejauh apa jarak diantara kita. Sudah sampaikah kau pada mimpimu?

Kamis, 26 Februari 2015

Helai Yang Terlupakan

Helai yang Terlupakan


Hidup memang mengikuti jalan takdir walau kadang merasa tak adil. Apa kuasa seorang seperti aku untuk melawannya. Tentang akhir sebuah cerita yang sengaja kau buat sedemikian rupa. Drama apa yang sudah kumainkan denganmu sebelumnya? Kau yang mengatur ceritanya, membuatku terlihat bodoh di lensa kamera. Seakan ditertawakan oleh kepedihan yang semakin lama semakin menyeruak. Namun tangan ini tak memiliki kekuatan untuk menghentikan bagian yang sedang kau mainkan untukku, hingga menjadi alasan air mata ini meluncur dengan derasnya.