Sahabat Sesaat
Oleh : Armanda Yusuf S.
Ketika kau kusapa,kau hanya menganggapku debu yang tak bernilai
Ketika kau ku tanya,hanya diamlah jawabanmu
Ketika kau kuharapkan,hanya sekecil balasan yang kudapatkan
Ku ingat dahulu ketika kau masih akrab denganku
Jalan bersama
Makan bersama
Ngobrol bersama tapi,
tidak tidur bersama
Hanya satu pertanyaan yang selalu terlintas dibenakku
"Apakah yang telah ku lakukan hingga kau begini?"
Kini ku tau bahwa sahabat tak selamanya sahabat
Sahabat abal-abal yang cuma modal awal,akhiran kosong
Karena kebanyakan sahabat hanyalah "Sesaat"
P I K A S S O
Sabtu, 03 September 2016
Selasa, 03 Mei 2016
RASA
oleh : Yofani Kurnia Putri
Sejauh sorotan matamu kutatap
Tak punya nyali lagi untuk mengulangi
Sekali lagi
Saat tak sengaja kulihat senyum angkuhmu
Semakin memupuk pesonaku padamu
Pesona nan indah
Juga wajahmu yang teduh
Sebabkan ku luluh
Jatuh terpikat
Sebuah rasa tercipta
Enyah
Ketika pesonamu tak lagi ada
Bersama hadirnya bunga lain dalam jiwamu
Aku jatuh disini
Tersungkur
Penuh sayatan luka tak terobati
Jumat, 23 Oktober 2015
Mengantarmu Pulang
Mengantarmu Pulang
Kemarin semua masih baik-baik saja. Sebelum awan hitam meredupkan
pandanganku. Angin lembut serasa berduri di kulitku. Hawa sejuk terasa menusuk
tulangku. Beku di sekujur tubuhku ini menandakan ada salah satu bagian yang tak
lengkap dari diriku. Jemarimu yang biasanya menghangatkanku pun sekarang seakan
tak membantu, aku sadar jemarimu sudah tak ingin lagi kugenggam. Perubahan yang
tak sanggup kuterima, pilihan yang tak ingin kujalani, dan keadaan yang
tak kuasa kuhadapi. Seribu pertanyaan memenuhi relungku, yang
jawabannya takkan pernah kutemukan. Semua pertanyaan yang meledak-ledak ini
hanya menemui jalan buntu karena kebisuanmu. Jarak langkah kita merenggang,
sesekali saat ku terhenti kau tak menunggu hingga aku harus berlari untuk
menyejajarkan posisi. Saat jalanku hujan kau tak lagi memberi teduhan. Kemana
semua perlakuan baik yang pernah kau beri? Semuanya membekas dalam memoriku,
membuatku semakin sakit saat menyadari kau tak seperti dulu lagi.
Kupikir jalan kita masih sama, tapi ternyata kau sudah mengambil
langkah berbeda. Perbedaan ini menyadarkanku, seberapa jauh aku memaksamu
kembali, tempat di hatimu bukan aku lagi. Aku bukan lagi alasanmu tersenyum,
aku bukan tujuan perjalanan panjang yang kau tempuh, aku bukan tempatmu pulang.
Semakin kupertahankan, semua ini semakin menyiksa. Sedangkan merelakanmu aku
masih tak bisa. Apakah tak kau lihat pedih di tatapan mataku? Bahkan air mataku
tak bisa lagi mencairkan hatimu yang beku. Ikatan kita memang masih ada, tapi
hatimu sudah membatu. Cintamu sudah lenyap bersama waktu, apa dayaku untuk
mempertahankanmu?
Biar aku belajar pada kehidupan, tentang bagaimana matahari
membiarkan senja menenggelamkannya, dan bagaimana langit merelakan jatuhnya
setiap rintik air yang tak kembali. Mungkin aku harus membiarkanmu meninggalkan
janji setia kita, dan mungkin aku pun harus merelakanmu pergi tanpa
mengharapkanmu lagi. Di sisa perjalanan kita ini, biarkan aku mengantarmu
pulang. Mengantarmu ke tempat yang kau inginkan, lalu melepasmu. Setelah ini
perjalanan pulangku tak akan sama, karena kita tak lagi bersama. Akan kuhapus
setiap jejak kita tadi, hanya aku dan hujan yang tau bagaimana aku belajar
tentang “Ikhlas” dan “Mengerti”.
Karena cinta sejati takkan pernah pergi.
Lenny L.
Kamis, 21 Mei 2015
Lembaran Kenangan
Lembaran
Kenangan
Seperti biasa, aku
masih membiarkan tubuhku mematung di tengah lalu lalang angin yang selalu
berkabar tentang kisah-kisah bahagia. Di senja kali ini bersama jingga, anginku
membisikkan cerita yang pernah kuurai dalam coretan catatan berharga, sehingga
ia abadi dan terjaga.
Selasa, 24 Maret 2015
Oh jadi ini yang kau sebut berjuang?
Oh,
Jadi Ini yang Kau Sebut Berjuang?
Bagiku, menunggumu adalah hal
yang begitu menyenangkan, terlebih ketika kau menyempatkan untuk sekedar
bertanya apa kabarku, apakah aku masih mencintaimu, dan beberapa hal lain yang
sejenak bisa membuatku lupa bahwa aku sedang mengorbankan waktuku untuk
menunggumu, yang nyatanya hari ini tidak lagi seperti dulu.
Jumat, 20 Maret 2015
Jemari Asing
Jemari
Asing
Masih berdiri di titik ini, masih tak bergeming.
Pandanganku masih nanar, cahaya terasa kecil di depan sana. Aku sudah lama
disini, sendiri. Berselimut kegelapan, dingin yang menusuk tulang, pilu yang
masih terasa walau kupejamkan mata. Aku benar-benar terluka, bahkan lututku
sudah tak kuat menopang tubuhku, aku terjatuh. Kutitikkan lagi gerimis di
lembut pipiku yang juga sebeku salju. Hela napas di setiap isakan gadismu ini
bagai pedang yang sudah menancap dalam. Entah sudah sejauh apa jarak diantara
kita. Sudah sampaikah kau pada mimpimu?
Kamis, 26 Februari 2015
Helai Yang Terlupakan
Helai
yang Terlupakan
Hidup memang mengikuti
jalan takdir walau kadang merasa tak adil. Apa kuasa seorang seperti aku untuk
melawannya. Tentang akhir sebuah cerita yang sengaja kau buat sedemikian rupa.
Drama apa yang sudah kumainkan denganmu sebelumnya? Kau yang mengatur
ceritanya, membuatku terlihat bodoh di lensa kamera. Seakan ditertawakan oleh
kepedihan yang semakin lama semakin menyeruak. Namun tangan ini tak memiliki
kekuatan untuk menghentikan bagian yang sedang kau mainkan untukku, hingga
menjadi alasan air mata ini meluncur dengan derasnya.
Langganan:
Komentar (Atom)




