Belenggu Angan
Oleh : Wahyu Pertiwi
BELENGGU ANGAN
Dari sudut ruangan aku berdiri,
menatap pilu seorang lelaki paruh baya yang terduduk lesu dihadapan meja hijau. Dari sudut mata aku
merasakan luka itu, begitu perih menyayat hatinya. Bibirku bergetar kecil,
menahan semua gejolak yang berada dalam hatiku. Hatiku berseru sedari tadi,
memekik tertahan untuk semua tatapan remeh mereka. Sebuah jemari kecil
mencengkeram lengan kananku. Terdengar isak tangisnya yang tertahan. Ia adalah
Rina, adik kecilku yang begitu kusayangi.
Aku
masih mendengar segala ocehan orang-orang disana. Menuding Ayahku dengan sesuka
hatinya. Apalagi pria berkepala botak dengan jas hitamnya. Ia terus melemparkan
senyum miring kepada Ayahku. Aku mencengkram ujung bajuku, berharap emosiku
sedikit mereda karena perbuatan kecil itu.